Pelatihan Keamanan Holistik terlaksana di hari pertama pada Selasa (20/5) ditekankan pentingnya keamanan digital bagi jurnalis.
“Berbicara kemananan holistik, kita bukan hanya melihat keamanan fisik saja tetapi dilihat secara menyeluruh mulai dari keamanan fisik, digital dan psikososial yang berdampak besar bagi aktivitas jurnalis,” ucap Adi Marsiela, Pelatih Keamanan Holistik pada hari pertama Kegiatan Keamanan Holistik bagi Jurnalis Indonesia Timur, di Ambon.
Beberapa materi yang penting dalam kegiatan ini adalah pada hari pertama dan kedua, peserta menerima materi tentang keamanan holistik, identifikasi bentuk-bentuk resiko dan ancaman dalam aktivitas jurnalis, pengantar keamanan fisik dan bagaimana internet bekerja, kebersihan dan keamanan dasar perangkat, mengelola identitas digital dan keamanan komunikasi yang diampu oleh Adi Marsiela dari Aliansi Jurnalis Independen.
Sementara di hari ketiga dan keempat, dari sisi psikologi disampaikan oleh Maria Puspita dari Yayasan Pulih tentang Memahami privasi: tubuh digital dan pengantar KBGO, memahami dampak-dampak psikososial, reseliensi manajemen stres dan self care, Psychological First Aid dan memahami keamanan fisik melalui studi kasus holistik.
Menurut Vicharius Dian Jiwa, selaku Manager Program Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), kegiatan pelatihan keamanan holistik ini berangkat dari kondisi pers di Indonesia dalam dua tahun terakhir menunjukkan dinamika yang mengkhawatirkan. Meskipun, kebebasan pers secara umum dijamin, praktiknya jurnalis kerap menghadapi tekanan, kekerasan hingga kriminalisasi.
“Laporan Indeks Keselamatan Jurnalis 2024 mencatat sebanyak 79 persen jurnalis merasa tertekan atau terancam saat menjalankan tugasnya. Bahkan, lebih dari setengahnya mengaku melakukan sensor mandiri terhadap karyanya. Kekerasan terhadap jurnalis masih tinggi, sebanyak 321 insiden tercatat sepanjang tahun 2023, mulai dari pelarangan liputan, intimidasi, hingga serangan digital. Aktor kekerasan pun beragam, dari buzzer politik, aparat keamanan, hingga organisasi masyarakat,” tutur Viko sapaan akrabnya.
Viko mengungkapkan kondisi kekerasan terhadap jurnalis lebih tinggi terjadi di wilayah Indonesia Timur, seperti di Papua, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Kekerasan itu dalam bentuk pelarangan liputan, intimidasi dan ancaman pembunuhan.
“Di Papua, 55 persen jurnalis memperkirakan larangan pemberitaan akan semakin intens, sementara di Maluku, ancaman teror dan kekerasan menjadi perhatian utama. Jurnalis perempuan di kawasan ini juga menghadapi risiko kekerasan berbasis gender yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Viko mengatakan berdasarkan laporan AJI Indonesia tahun 2025, sebanyak 75 persen jurnalis nasional pernah mengalami kekerasan sepanjang kariernya. Di ranah digital, bentuk kekerasan yang paling sering dialami adalah pengawasan, fitnah, dan intimidasi. Sementara Kekerasan fisik juga masih terjadi, dengan jurnalis perempuan sebagai kelompok paling rentan, baik secara digital maupun fisik.
“Minimnya kehadiran serikat pekerja terutama di media lokal kawasan timur, turut memperlemah perlindungan jurnalis,” katanya.
Kami berharap melalui kegiatan keamanan holistik selama 4 hari ini, jurnalis Indonesia Timur dapat menjalankan tugas jurnalistik secara profesional dan aman, serta membangun jaringan solidaritas dan perlindungan yang lebih kuat. *







