Jumlah penduduk Provinsi Maluku Utara kini resmi menembus angka 1,37 juta jiwa (tepatnya 1.375.310 jiwa). Angka terbaru ini berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar-Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Angka populasi penduduk Maluku Utara ini melonjak signifikan dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010 silam yang baru menyentuh 1,03 juta jiwa.

Meski secara total populasi melonjak, grafik laju pertumbuhan penduduk di Bumi Moloku Kieraha ini sebenarnya justru melambat.

Kepala Bagian Umum BPS Maluku Utara Harim Arrosid, menyebutkan bahwa dalam lima tahun terakhir laju pertumbuhan melambat menjadi 1,45 persen per tahun.

“Perlambatan ini menjadi indikator penting dalam melihat perubahan dinamika kependudukan daerah,” ujar Harim dalam rilis, Sabtu 23 Mei 2026.

Populasi Pria Lebih Dominan

Dari total populasi yang ada saat ini, kaum pria masih mendominasi struktur kependudukan di Maluku Utara. Jumlah penduduk laki-laki tercatat sebanyak 704,76 ribu jiwa (51,24 persen), sedangkan perempuan berjumlah 670,54 ribu jiwa (48,76 persen).

Kondisi ini membuat rasio jenis kelamin (sex ratio) di Maluku Utara berada di angka 105. Artinya, terdapat 105 laki-laki per 100 perempuan.

Secara wilayah, Kabupaten Halmahera Tengah mencatat rasio tertinggi sebesar 109. Kemudian disusul Kabupaten Halmahera Selatan dan Halmahera Timur yang kompak berada di angka 107.

Gen Z Jadi Penguasa

Kabar paling menggembirakan dari SUPAS 2025 adalah Maluku Utara kini sedang menikmati puncak bonus demografi. Lebih dari separuh populasi di daerah ini didominasi oleh kelompok usia produktif.

Tak tanggung-tanggung, Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok terbesar yang menguasai demografi dengan porsi mencapai 27,28 persen. Posisi kedua ditempati oleh Generasi Milenial yang menyumbang 25,28 persen.

Sementara sisanya (47,45 persen) tersebar di generasi lainnya, meliputi Post Gen Z sebesar 22,20 persen, Gen X 17,19 persen, Baby Boomer 7,50 persen, dan Pre-Boomer 0,55 persen.

“Dominasi Gen Z dan Milenial ini menunjukkan struktur penduduk Maluku Utara dikuasai usia produktif. Ini berpotensi besar menjadi modal utama bagi pembangunan daerah,” tutup Harim. *