Soal Air Bersih dan KSAN 2022 yang Dihadiri Wali Kota Ternate di Jakarta

M Tauhid Soleman. (Dok Diskomsandi Ternate)

Wali Kota Ternate M Tauhid Soleman diundang dan hadir sebagai pembicara bersama Gubernur DKI Jakarta dan 3 kepala daerah lainnya, dalam Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional atau KSAN 2022, di Jakarta, Rabu, 25 Mei kemarin.

Kehadiran wali kota pada sesi Horizontal Learning ini didampingi Kepala Bappelitbangda Rizal Marsaoly dan Dirut Perumda Air Minum Ake Gaale Kota Ternate Abubakar Adam.

BACA JUGA Wagub Maluku Utara Pimpin Pelantikan Penjabat Bupati Morotai di Sofifi

Kegiatan yang digelar oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas ini, dalam rangka meningkatkan profil sektor air minum dan sanitasi aman di tingkat nasional serta memperkuat peran dan strategi pemerintah pusat dalam upaya meningkatkan akses air minum dan sanitasi aman sesuai mandat target pembangunan berkelanjutan SDGs (Sustainable Development Goals).

Dalam konferensi KSAN ini, masing-masing pembicara menyampaikan tentang komitmen dan aksi nyata pemerintah di daerah dalam percepatan akses air minum dan sanitasi aman di wilayah kerja masing-masing.

Sedikitnya terdapat 4 poin pembicaraan yang disampaikan oleh Wali Kota M Tauhid Soleman melalui kesempatannya. Pertama, tentang latar belakang Pemkot Ternate dalam mengembangkan program konservasi air baku untuk air minum. Kedua, inovasi dalam meningkatkan cadangan air baku untuk air minum. Ketiga, dampak yang diperoleh dari penerapan program konservasi air baku dan memastikan adanya alokasi APBD yang berkelanjutan untuk program konservasi air baku untuk air minum, dan keempat, tips serta trik untuk kolaborasi dengan pihak swasta dalam mendukung pembangunan sumur resapan.

Tauhid menyebutkan, jumlah sumur sebagai sumber air di kota pulau Ternate sebanyak 55 titik dengan total kapasitas 538,3 liter per detik. Kemudian jumlah penduduk yang terlayani air bersih ini sebanyak 133.486 jiwa atau 64,84 persen dari 32.323 pelanggan.

Ia juga mengemukakan bahwa saat ini jaringan perpipaan pusat kota Ternate sudah lama dan rentan bocor pada posisi bawah tanah.

“Kota Ternate memiliki mata air Ake Gaale yang memiliki luas daerah imbuhan mata air sebesar 383,58 hektare atau hanya 3,5 persen dari luas Pulau Ternate. Memiliki total produksi sebesar 108 liter per detik, saat ini telah mengalami penurunan debit yang mencapai sekitar 25 persen,” lanjut Tauhid.

Ia menyatakan, Pemkot Ternate dengan bantuan USAID IUWASH PLUS telah melakukan kajian kerentanan mata air dan rencana aksi lanjutan akan masalah yang dihadapi ini.

Di samping itu, kata Tauhid, juga ada pembangunan sumur resapan. Pembangunan sumur resapan ini telah membawa dampak terhadap mata air Ake Gaale.

“PDAM Ternate melaporkan debit air naik dari di bawah 75 Lps sebelum 2018 menjadi 85 Lps di pertengahan 2021, dan salinitas air berkurang dari 1.501 mg/L pada 2016 menjadi 398 mg/L pada 2021. Saat ini, aliran air Ake Gaale adalah 7,01 Lps atau setara dengan 221.536.000 liter per tahun setelah pembangunan sumur resapan,” ujarnya.

Ia menambahkan, bampak dari penerapan inovasi dan kolaborasi yang dilakukan ini telah menghasilkan 690 instalasi iPAH, 948 Sumur Resapan, dan 560 Lubang Resapan Biopori.

Rizal Marsaoly, Kepala Bappelitbangda Kota Ternate, ketika dikonfirmasi, menambahkan, melalui kegiatan ini, Pemkot Ternate mendapat perhatian dari pemerintah pusat, yang selanjutnya akan menjadi salah satu daerah yang diprioritaskan oleh pemerintah pusat dalam hal penanganan air bersih.

“Pak Wali Kota didaulat sebagai pemateri dalam kegiatan ini, karena Kota Ternate pada 2018 – 2019 lalu mendapat pendampingan melalui program Bappenas yang bernama IUWASH PLUS,” tutur Rizal.

BACA JUGA Siap-Siap 6 Jabatan Eselon II di Pemkot Ternate Dilelang Pekan Depan

Menurutnya, program itulah yang memberi nilai positif terhadap kadar kandungan air yang semakin membaik untuk Kota Ternate.

“IUWASH PLUS kedepan akan selalu melakukan pendampingan untuk menjaga air baku atau ketersedian air bersih di Ternate. Juga berinovasi agar pemerintah kota bisa mencadangkan air bersih dalam jangka waktu dua sampai tiga puluh tahun kedepan,” tambahnya. *