Tentang Batu Angus Ternate dan Nilai Estetiknya di Mata Pramuwisata

Avatar photo
Beberapa bangunan di Batu Angus. (Kieraha.com)

Objek wisata Batu Angus yang terdapat di kawasan Kelurahan Kulaba, Ternate Barat, memiliki daya tarik yang mumpuni. Potensi wisata alam yang menjadi saksi sejarah letusan Gunung Api Gamalama ini bisa dikembangkan sebagai pusat penelitian geologi dunia.

Hamparan lava yang lebih dikenal dengan sebutan Batu Angus ini terjadi akibat letusan Gamalama pada tahun 1737. Kawasan wisata ini bakal dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata geologi di Pulau Ternate, Maluku Utara.

Namun, pengembangan wisata Batu Angus yang ada saat ini justru mendapat tanggapan lain dari Pramuwisata ketika berkunjung ke kawasan setempat. Ini disampaikan karena model pengembangan yang ada dinilai lebih mengedepankan pembangunan beton yang menghilangkan nilai estetika dan keasliannya.

BACA JUGA Rehabilitasi Mangrove Memerlukan Strategi yang Tepat

“Hamparan batu angus ini kalau dari sisi estetika sangatlah menarik daya tarik wisatawan, namun sayang karena di dalam tempat wisata dibangun bangunan beton cukup banyak,” kata Pramuwisata Anto Mangoda, Minggu 25 Juli 2021.

Anto mengatakan jika dilihat dari gerbang pintu masuk kawasan Batu Angus, saat ini tidak lagi mencerminkan wisata yang ramah lingkungan.

“Bangunan gerbang tempat Wisata Batu Angus seharusnya mengggunakan bongkahan batu angus, kemudian didesain sedemikian rupa agar bangunan fisiknya bisa menyatu dengan kondisi alam setempat. Kalau didesain seperti itu maka pasti lebih menarik,” ujarnya.

BACA JUGA Sejarah Bentukan Lava Batu Angus di Pulau Ternate

Karena itu, lanjut Anto, pengembangan wisata harus memiliki semangat pembangunan berkelanjutan. Pemandangan serupa juga ditemukannya di kawasan Wisata Danau Tolire Besar. Menurut Anto, beberapa bangunan yang ada menghilangkan daya tarik danau.

Penjelasan Dinas Pariwisata
Beberapa bangunan di Batu Angus. (Kieraha.com)

Kepala Dinas Pariwisata Kota Ternate, Rizal Marsaoly menjelaskan, dalam menata suatu kawasan harus sesuai dengan peruntukannya, sehingga di sisi pintu gerbang Batu Angus diperuntukkan untuk kawasan membangun, sementara di bagian kiri untuk penggunaan kawasan konservasi batu angus.

“Kalau pembangunannya kita sudah sesuaikan, misalnya Musallah ada instalasi bambu, artinya kita menjaga konsistensi dengan bangunan yang kita bangun, begitu juga dengan atap bangunan yang digunakan sirap sehingga nuansa alamnya tetap terjaga,” kata Rizal.

Ia menambahkan, bangunan yang ada di kawasan Batu Angus tidak murni beton.

“Namun kalau memang anggaran kita masih mencukupi, maka gerbang itu akan dibongkar. Saya setuju dengan konsep pembangunan tersebut, sehingga beri saya kesempatan untuk tahun depan agar ditata lebih alami dengan menggunakan bongkahan batu angus. Begitupun dengan (pengembangan wisata) yang ada di Danau Tolire Besar,” lanjut Rizal.

Sahrul Jabidi
Author